Robohkan Mall Itu!

Robohkan setiap mall di Jakarta. Hancurkan dan luluhlantahkan. Mall adalah simbol betapa sombongnya kaum kaya terhadap kaum miskin yang tertindas dan terlindas. Mall memenuhi tiap sudut kota ini dengan beton dan semen. Mall adalah salah satu alasan mengapa banjir selalu menghantui Jakarta tiap kali hujan mengguyur. Mall membuat masyarakat Jakarta menjadi sebuah komunitas yang konsumtif dan westernized.

Bangun taman-taman kota yang ramah lingkungan yang bisa mengajarkan anak cucu kita betapa indahnya karunia alam yang Tuhan telah berikan. Bangun taman-taman kota dimana kita bisa menghirup udara bersih dan merasakan sejuknya angin di sore hari.

Jakarta Butuh Revolusi Budaya.

7 Comments

  1. NOOOOOOOOOOOOOOOO…!!!!

    You can demolish the other malls i dont really care, but not this one.. plaza senayan is MY mall..!!😀 hahaha..

    Indeed, mall is the symbol of consumerism..because it is the place where ppl go to buy something.. However, I disagree if u said that it is the symbol of westernization…

    If u want to breathe clean air in jakarta.. demolishing the malls is clearly not the solution.. the right solution is pretty cliché… reduce the pollution from the cars.. which all we know is very hard……

    Yes, it is true having more trees can reduce the pollution.. but we cant keep up with the cars.. year by year..number of cars in jakarta increasing rapidly…. if we really want to demolish the malls..it’s okay.. but eventually we need to have more parks and trees… what else should we demolish..??

  2. Judul “Robohkan Mall Itu” bukan berarti mengajak pembaca untuk merobohkan setiap mall di Jakarta. Judul tersebut sengaja ditulis secara provokatif untuk menyadarkan pembaca bahwa jumlah mall di Jakarta sudah lebih dari cukup.

    “Robohkan Mall Itu” sebenarnya berarti kurangi jumlah mall di Jakarta dan tutup mall-mall yang menyalahi aturan tata ruang kota Jakarta seperti mall-mall di wilayah Senayan yang seharusnya menjadi wilayah hijau termasuk Plaza Senayan. Hehe.

    Well, mall was invented in America I believe. I love malls too actually but I’d love to see new places in Jakarta where the poor and the rich can mingle without having social symbols.

  3. Tas, inget temenmu yang satu ini juga kerja di mall lho….(^_^)
    Tapi gw tetap berfikir secara objectif…..memang benar klo indonesia, khususnya jakarta telah menjadi masyarakat yg konsumtif. Tapi tidak sepenuhnya disebabkan oleh banyaknya mall. Salah satunya sangat dipengaruhi pesatnya pertumbuhan industri ritel yang juga mempengaruhi pertumbuhan property mall. Tanpa ada ekspansi dan mass campaingn dari peritel yg begitu memborbardir thdp masyarakat indonesia, maka tidak akan ada demand terhadap kehadiran sebuah mall atau pusat perbelanjaan.

    Memang banyak mall membuat konsep yg begitu westernized…..tp tidak semuanya. Salah satunya mall tempat gw bekerja (walau lebih tepat disebut sebuah hyperstores bukan sebuah mall), yang sedang berjuang keras untuk mendukung UKM dan berbagai hasil produksi dan kreasi anak bangsa. Beberapa diantaranya dengan adanya zoning busana muslim tasik, zoning batik, zoning textile dan garment. 80% dari dagangan tersebut adalah produksi dalam negeri. Sisanya adalah produk textile jepang, india dan fashion hongkong (cina), sekali lagi sebagian besar bukan dari barat, melainkan asia.
    Sedikit menjelaskan tentang konsep hyperstores. Hyperstores itu konsep pusat perbelanjaan dengan konsep mixed used, bila mall itu leasing (sewa), ITC/Trade Center itu strata title (hak milik), Hyperstores itu penggabungan keduanya dengan zoning area. Barang2 yang dijual pun mostly adalah grosiran, walau bisa juga beli eceran.

    Satu hal lagi yg membuat tidak sehatnya kota jakarta adalah lagi2 karena pemerintah yang korup. mereka hanya mau uang para pengembang/developer, tanpa memikirkan kepentingan masyarakat sesungguhnya…..i realy know well about it, cause i see how “complicated” bussiness should be role, if we have a dealing or an agreement with that corupt government.

    FYI, masih ada sekitar 50 mall/trade center/pusat grosir yang akan berdiri di seantero jabodetabek dan jawa barat pada tahun ini….memang luar biasa keangkuhan sebuah kota.

  4. Thanks no penjelasan dan komentarnya.
    Bener banget kalau bukan mall aja yang jadi sumber terjadinya budaya konsumtif di masyarakat kita. Salah satunya juga karena peritel-peritel yang begitu agresif dalam melancarkan strategi pemasaran mereka. Namun berdasarkan sejarah mall hadir lebih dulu di masyarakat Indonesia, baru dech awal 2000-an pusat grosir dan ITC tumbuh pesat dan sekarang mulai menurun karena pasar yang sudah jenuh.

    Namun menurut gue keberadaan ITC masih lebih baik bagi kota Jakarta karena ITC memberikan alternatif baru bagi kalangan masyarakat menengah kebawah. Mereka tidak lagi “terpaksa” pergi ke pasar-pasar tradisional yang becek dan jorok karena mereka bisa menemukan barang-barang yang lebih murah di pertokoan yang nyaman dan bersih. Di saat yang bersamaan kaum kaya juga tidak segan-segan berbaur. Sementara mall? Mall hanya diperuntukkan bagi kalangan kaya yang “modern.” Seorang yang miskin dengan sendal jepit (bukan Dakka, red) tidak akan pernah berpikir untuk berbelanja di Plaza Senayan atau Pondok Indah Mall 2.

    Gue tidak anti mall karena gue pribadi juga doyan nge-mall dan keberadaan mall sebagai salah satu bukti adanya kesenjangan sosial yang begitu lebar memang bukan suatu hal yang bisa dihindari di dalam sebuah masyarakat kapitalis. Hanya saja Pemda seharusnya adil untuk membatasi jumlah mall dan menutup mall yang melanggar zoning tata ruang kota Jakarta. Kalau pedagang kaki lima harus nangis darah karena gerobak mereka disingkirkan secara paksa maka pengembang atau pemilik mall harus mendapatkan perlakuan yang sama apabila melanggar. Dunia ini memang kejam.

  5. lagi cari artikel mall nemu ini. walopun dah lama yah posting nya dah 2007, numpang komen ya, kl ga suka silahken apus komen gw. menurut gw si ada + dan – nya. slh 1 + nya cukup byk menyerap tenaga kerja baik dr mall sendiri maupun dr tenant (peritel), mulai dari store manager sampe cleaning service, OB, dll (td jg ada yg blg di atas dia kerja di slh 1 tenant mall, gw jg pnah krja di mall). kl mo diliat dr sumber pajak, mall dan retailer jg kasi byk devisa bg negara (kalau mrk taat pajak). neon sign aja bayar pajak, brg2 yg mereka jual jg kena pajak, pendapatan pegawai mereka jg dipajakin. kl mo liat – nya, yah byklah, mis mall mengkonsumsi byk pasokan listrik, utk ac, lampu, dll. msh byk alasan2 lain kl mo dijabarin 1 1 nti kepanjangan. intinya adalah sgla ssuatu ada + dan – nya, tgantung dr segi mana kita mau melihat.

  6. Salam kenal,

    terimakasih buat “old but still seems new” article ini. saya menikmati baik dari artikel yg ditulis maupun komentar-komentar yg disampaikan.

    salam “saya berbelanja, maka saya ada”

  7. Salam kenal,

    saya kirimkan sekali lagi coz yg pertama ada 1 huruf yg terlewatkan.

    terimakasih buat “old but still seems new” article ini. saya menikmati baik dari artikel yg ditulis maupun komentar-komentar yg disampaikan.

    salam “saya berbelanja, maka saya ada”


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s